 Manusia sebagai makhluk yang berpikir dibekali rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu inilah yang mendorong untuk mengenal, memahami dan menjelaskan gejala-gejala alam, serta berusaha untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Dan dorongan rasa ingin tahu dan usaha untuk memahami dan memecahkan masalah menyebabkan manusia dapat mengumpulkan pengetahuan. Pengetahuan yang diperoleh mula-mula terbatas pada hasil pengamatan terhadap gejala alam yang ada, kemudian semakin bertambah dengan pengetahuan yang diperoleh dari hasil pemikirannya. Selanjutnya dan peningkatan kemampuan daya pikirnya, manusia mampu melakukan eksperimen untuk membuktikan dan mencari kebenaran dari suatu pengetahuan. Dari hasil, pengolahan data yang diperoleh melalui eksperimen ini kemudian dapat diperoleh pengetahuan yang baru. Setelah manusia mampu memadukan kemampuan penalaran dengan eksperimentasi ini lahirlah Ilmu Pengetahuan Alam yang mantap.
Jadi Perkembangan alam pikiran manusia sampai dengan kelahiran Ilmu Pengetahuan Alam sebagai ilmu yang mantap melalui 4 tahap, yaitu tahap mitos, tahap penalaran, tahap pengalaman dari percobaan, dan akhirnya tahap metode keilmuan. ....>>
1. Perkembangan Alam PikiranManusia sebagai makhluk mempunyai ciri-ciri: - a. Memiliki organ tubuh yang kompleks dan sangat khusus terutama otaknya.
- b. Mengadakan pertukaran zat, yakni adanya zat yang masuk dan keluar.
- c. Memberikan tanggapan terhadap rangsangan dan dalam dan dan
- d. Memiliki potensi berkembang biak.
- e. Tumbuh dan bergerak
- f. Berinteraksi dengan lingkungannya.
- g. Mati
Manusia sebagai makhluk berpikir dibekali hasrat ingin tahu tentang benda dari peristiwa yang terjadi di sekitarnya termasuk juga ingin tahu tentang dirinya sendiri. Rasa ingin tahu inilah mendorong manusia untuk memahami dan menjelaskan gejala-gejala alam, baik alam besar (makrokosmos) maupun alam kecil (mikrokosmos), serta berusaha memecahkan masalah yang dihadapi Pengetahuan yang diperoleh ini akhirnya tidak hanya terbatas pada objek yang dapat diamati dengan panca indera saja, tetapi juga masalah-masalah lain, misalnya yang berhubungan dengan baik atau buruk, indah atau tidak indah. Kalau suatu masalah dapat dipecahkan, timbul masalah lain menunggu pemecahannya manusia bertanya terus setelah tahu apa-nya, mereka ingin tahu bagaimana dan mengapa. Manusia mampu menggunakan pengetahuannya yang terdahulu untuk dikombinasikan dengan pengetahuannya yang baru menjadi pengetahuan yang lebih baru. Hal demikian telah berlangsung berabad-abad, sehingga terjadi penumpukan pengetahuan. Rasa ingin tahu yang terus berkembang dan seolah-olah tanpa batas itu menimbulkan perbendaharaan pengetahuan pada manusia. Hal ini tidak saja meliputi pengetahuan tentang kebutuhan praktis untuk hidupqya sehari-hari, seperti bercocok tanam atau membuat panah atau lembing yang lebih efektif untuk berburu, tetapi juga berkembang sampai kepada hal-hal yang menyangkut keindahan atau seni. Rasa ingin tahu yang terdapat pada manusia ini menyebabkan pengetahuan mereka menjadi berkembang. Setiap hari mereka berhubungan dan mengamati benda-benda dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam sekitarnya. Pengamatan-pengamatan yang ditangkap melalui panca inderanya merupakan objek rasa ingin tahunya. Manusia tidak akan merasa puas jika belum memperoleh jawaban mengenai hal-hal yang diamatinya. Mereka berusaha mencari jawabannya dan untuk itu mereka harus berpikir. Rasa ingin tahunya terus berlanjut. Bukan hanya adanya saja yang ingin diketahui jawabannya, tetapi juga jawaban dan bagamana dan kemudian berlanjut mengapa tentang hal-hal yang bersangkutan dengan benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang diamatinya. Rasa ingin tahu semacam itu tidak dimiliki oleh hewan. Rasa ingin tahu pada hewan terbatas pada rasa ingin tahu yang tetap, yang tidak berubah dari zaman ke zaman. Hewan bergerak dari suatu tempat ke tempat lain terutama didorong oleh rasa ingin tahu-nya yang bersangkutan erat dengan nalurinya saja. Mereka hanya sekadar ingin tahu, apakah di tempat lain terdapat makanan, atau mungkin juga apakah di tempat lain aman dan bahaya yang mengancam dirinya dan anak-anaknya atau tidak. Hewan memerlukan tempat tinggal (sarang) yang dapat melindungi diri dari tempat berkembang biak, membesarkan anak-anaknya. Berbeda dengan manusia, pengetahuan hewan mengenai makanan atau tempat tinggal (sarang) sepanjang zaman selalu tetap. 2. Mitos, Penalaran, dan berbagai cara memperoleh pengalaman Perkembangan selanjutnya adalah memenuhi kebutuhan nonfisik atau kebutuhan pikirannya, jadi tidak semata-mata untuk memeuhi kebñtuhan fisiknya. Rasa ingin tahu manusia ternyata tidak dapat terpuaskan atas dasar pengamatan maupun pengalamannya saja untuk memuaskan alam pikirannya. Manusia mereka-reka sendiri jawabannya, sebagai contoh: Mengapa gunung nieletus? Karena tak tahu jawabannya maka mereka-reka sendiri dengan jawaban, “yang berkuasa dan gunung itu sedang marah.” Maka muncul pengetahuan baru yang disebut yang berkuasa. Dengan menggunakan jalan pikiran yang sama muncullah anggapan adanya pohon yang besar, matahari, bulan, kilat, atau adanya raksasa yang menelan bulan pada saat gerhana bulan. Pengetahuan-pengetahuan baru yang bermunculan dan merupakan gabungan dan pengalaman dari kepercayaan kita sebut mitos. Adapun cerita yang berdasarkan mitos ini disebut legenda. Mitos itu timbul disebabkan antara lain keterbatasan alat indera manusia misalnya: 1) Alat Penglihatan - Banyak benda yang bergerak begitu cepat sehingga tak tampak jelas oleh mata. Mata tak dapat membedakan benda-benda. Demikian juga jika benda yang dilihat terlalu jauh, maka mata tak mampu melihatnya. -
2) Alat Pendengaran - Pendengaran manusia terbatas pada getaran yang mempunyai frekuensi dan 30 sampai 30.000 per detik. Getaran di bawah tiga puluh atau di atas tiga puluh ribu per detik tak terdengar.
3) Alat Pencium dan Pengecap - Bau dan rasa tidak dapat memastikan benda yang dikecap maupun diciumnya. Manusia hanya bisa membedakan 4 jenis rasa, yaitu manis, masam, asin, dan pahit. Bau seperti parfum dan bau-bauan yang lain dapat dikenal oleh hidung kita bila konsentrasinya di udara lebih dan sepersepuluh juta bagian. Melalui bau, manusia dapat membedakan satu benda dengan benda yang lain namun tidak semua orang bisa melakukannya.
4) Alat Perasa - Alat perasa pada kulit manusia dapat membedakan panas atau dingin, namun sangat relatif sehingga tidak bisa dipakai sebagai alat observasi yang tepat.
Alat-alat indera tersebut di atas sangat berbeda-beda, di antara manusia, ada yang sangat tajam penglihatannya, ada yang tidak. Demikian juga ada yang tajam penciumannya, ada yang lemah. Akibat dari keterbatasan alat indera kita maka mungkin timbul salah informasi, salah tafsir, dan salah pemikiran. Untuk meningkatkan kecepatan dan ketetapan alat indera tersebut dapat juga orang dilatih untuk itu, namun tetap sangat terbatas. Usaha usaha lain adalah penciptaan alat, meskipun alat yang diciptakan ini masih menimbulkan kesalahan. Pengulangan pengamatan dengan berbagai cara dapat mengurangi kesalahan pengamatan tersebut. Jadi, mitos itu dapat diterima oleh masyarakat pada masa itu karena : a) Keterbatasan pengetahuan yang disebabkan keterbatasan penginderaan baik langsung maupun dengan alat. b) Keterbatásan penalaran rnanusia pada masa itu. c) Hasrat ingin tahunya terpenuhi. menurut Auguste Comte (1798-1857 M), dalam sejarah perkembangan jiwa manusia, baik sebagai individu maupun sebagai keseluruhan, berlangsung dalam tiga tahap: 1. Tahap teologi atau fiktif 2. Tahap filsafat atau metafisik atau abstrak 3. Tahap positif atau ilmiah’riil. Pada tahap teologi atau fiktif, manusia beruaha untuk mencari dan menemukan sebab yang pertama dan tujuan yang terakhir dari segala sesuatu, dan selalu dihubungkan dengan kekuatan. Gejala alam yang menarik perhatiannya selalu diletakkan dalam kaitannya dengan sumber yang mutlak. Mempunyai anggapan bahwa setiap gejala dan peristiwa dikuasai dan diatur oleh para dewa atau kekuatan gaib lainnya. Tahap metafisika atau abstrak merupakan tahap di mana manusia masih tetap mencari sebab utama dan tujuan akhir, tetapi manusia tidak lagi menyadarkan diri kepada kepercayaan akan adanya kuatan gaib, melainkan kepada akalnya sendiri, akal yang telah mampu melakukan abstraksi guna menemukan hakikat segala sesuatu. Tahap positif atau riil merupakan tahap di mana manusia telah mampu berpikir secara positif atau riil, atas dasar pengetahuan yang telah dicapainya yang dikemukakan secara positif melalui pengamatan, percobaan, dan perbandingan. kembali pada tahun teologi atäu fiktif, bahwa manusia menciptakan mitos untuk memahami gejala alam yang ada di sekitarnya. Mitos adalah pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman dan pemikiran sederhana serta dikaitkan dengan kepercayaan akan adanya kekuatan gaib. Berpikir adalah suatu kegiatan untuk rnemperoleh/menemukan pengetahuan yang benar. Proses berpikir dalam, menarik kesimpulan berpengetahuan yang benar disebut penalaran. Pengetahuan yang dihasilkan penalaran ini merupakan hasil kegiatan berpikir, bukanlah hasil perasaan. Perlu kita sadari bahwa tidak semua kegiatan berpikir merupakan penalaran. Penalaran merupakan kegiatan berpikir yang mempunyai - ciri-ciri tertentu, yakni logis dan analistis. Berdasarkan kriteria ini, maka tidak semua kegiatan berpikir merupakan berpikir loggis dan analistis. Cara berpikir semacam ini ialah cara berpikir yang tidak bersifat logis dan analistis bukan merupakan penalaran. terdapat berbagai cara untuk memperoleh kesimpulan atau pengetahuan yang tidak berdasarkan penalaran, di antaranya ialah : - Pengambilan kesimpulan berdasarkan perasaan. Merasa, merupakan suatu cara menarik kesimpulan yang tidak berdasarkan penalaran.
- Intuisi merupakan kegiatan berpikir yang tidak analistis, tidak berdasarkan pada pola berpikir tertentu. Pendapat yang berdasarkan intuisi timbul dari pengetahuan-pengetahuan yang terdahulu melalui suatu proses berpikir yang tidak disadari. diolah pendapat itu muncul begitu saja tanpa dipikir.
- Wahyu. Wahyu adalah pengetahuan yang disampaikan oleh Tuhan kepada manusia. Pengetahuan ini disalurkan lewat Nabi yang diutus-Nya. Dengan wahyu, manusia memperoleb pengetahuan dengan keyakinan (kepercayaan) bahwa yang diwahyukan tersebut benar.
- Trial and error. Trial and error adalah suatu cara untuk memperoleh pengetahuan secara coba-coba atau untung-untungan. Mulai zaman purba sampai sekarang banyak manusia yang dalam usaha memperoleh pengetahuan mengggunakan cara ini Proses untuk rnemperoleh pengetahuan dengan cara coba-coba memakan waktu yang lama, hingga cara ini merupakan cara yang tidak efisien bila digunakan untuk mencari kebenaran.
|
SUKU SUNDA
kurang gambar...
Handphone IMO i168 =...
susah banget cari headset ny.di sini ...
Windows Server 2003
[*tibiamoney.com]armor tibia [/***]
Kesamaan Kedudukan W...
thx ya om ats artikelnya... tugas ku ...
Tahajjud, Mencegah I...
Sebuah penemuan yang mengembirakan se...