Written by dPrince Of Smart | Rabu, 16 September 2009 21:55 |
Artikel ini telah dibaca : 2325 kali |
Setiap tahun hal ini pasti akan menghampiri kita dan kita alami, (dan semoga tahun mendatangpun kita masih diberi kesempatan mengalaminya). Apa yang kita alami? Ya itu, pastinya setelah berpuasa di bulan suci ramadhan ya kita akan alami insya Allah Lebaran, makan ketupat, menanti THR, berkumpul sanak saudara, Mudik, Pulang kampung, Makan ketupat sayur, sebagian ada yang pakai baju baru dan masih banyak hal yang bisa dilakukan untuk menyambut kemenangan. Hal ini bisa dirasakan tidak hanya oleh kaum muslimin yang merayakannya, tapi hampir sebagian besar umat manusia diluar Islam.
Apalagi Indonesia merupakan negara dengan penduduk yang cukup besar meskipun mayoritas muslim namun ada beberapa agama lain yang dianut. Kita tidak akan membahas lebih jauh mengenai hal tersebut, sesuai dengan topik saya diatas, ada kaitan antar perayaan Idul Fitri (Lebaran), Mudik (Pulang kampung/tanah kelahiran) dengan makna yang terkandung didalam peristiwa besar nasional dan bagian peristiwa besar agama ini.
Untuk Idul Fitri, masih banyak di tengah masyarakat yang masih saja mengharap bahwa tahun ini harus lebih mewah dan meriah dibandingkan tahun lalu sehingga mengharap lebih diterima ibadahnya nyaris terlupakan. Pelaksanaan ibadah puasa pun masih saja ada yang dianggap hal biasa yang merasa ada kepastian di tahun depan pun mungkin bisa lebih sempurna. Dari tulisan saya ini saya sempat survey dari tahun ke tahun, melihat dan mencermati, memang cobaan paling berat di saat berpuasa adalah 7 hari menjelang lebaran. Tidak asing di mata kita terlihat dengan jelas di sudut-sudut pertokoan, pasar, keramaian masih saja ada yang terkadang lupa atau sengaja melakukan aktivitas layaknya di luar bulan ramadhan. Tragisnya, hal itu sudah tidak lagi sembunyi-sembunyi, merokok, makan, minum tidak lagi di tempat tertutup ataupun tak terlihat.
Hal ini cukup membuat sebagian orang tua yang menarik nafas panjang, anak-anak muda, mungkin diantaranya anak-anak kita, saudara kita yang suatu saat melihat dan mengkuti kebiasaan tersebut. Semoga saja tidak, insya Allah..
Untuk urusan mudik atau pulang kampung, hal ini merupakan moment besar yang akan selalu dialami bangsa Indonesia. Mayoritas penduduknya yang muslim membuat Tradisi Mudik ini akan selalu ada. Disamping karena banyak masyarakat yang memang mengais rejeki dengan cara merantau, hal ini disebabkan juga adanya suatu keinginan masyarakat untuk dapat merayakan idul fitri bersama sanak saudara, berkumpul ditempat yang sudah pasti akan membuat hati kita rindu yaitu Kampung Halaman dimana kita semua dilahirkan, dibesarkan, bersama keluarga, teman, saudara, dan lingkungan yang telah membentuk kita.
Untuk mudik banyak hal yang harus kita persiapkan, berikut adalah beberapa persiapan yang mungkin patut anda pertimbangkan :
Nah diantara 15 hal yang perlu anda pertimbangkan diatas itu, ada hal penting lainnya, ini bisa juga untuk bekal ibadah supaya mudik kita jadi lebih nyaman, tenang dan mendapat keridhoan, amiin.. diantaranya adalah (baca selanjutnya, readmore ):
Seseorang yang hendak mudik atau melakukan safar (perjalanan jauh) seharusnya bukan hanya mempersiapkan barang-barang dan bekal untuk perjalanan. Ada persiapan yang lebih penting dari itu semua, sehingga safar tersebut lebih dimudahkan dan diberkahi oleh Allah. Di antara persiapan yang bisa dilakukan adalah:
Pertama, melakukan shalat istikharah terlebih dahulu untuk memohon petunjuk kepada Allah mengenai waktu safar, kendaraan yang digunakan, teman perjalanan dan arah jalan. Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kami shalat istikhoroh dalam setiap perkara sebagaimana beliau mengajarkan kepada kami Al Qur’an.” [1]
Kedua, jika sudah bulat melakukan perjalanan, maka perbanyaklah taubat yaitu meminta ampunan pada Allah dari segala macam maksiat, mintalah maaf kepada orang lain atas tindak kezholiman yang pernah dilakukan, dan minta dihalalkan jika ada muamalah yang salah dengan sahabat atau lainnya.
Ketiga, menyelesaikan berbagai persengketaan, seperti menunaikan utang pada orang lain yang belum terlunasi sesuai kemampuan, menunjuk siapa yang bisa menjadi wakil tatkala ada utang yang belum bisa dilunasi, mengembalikan barang-barang titipan, mencatat wasiat, dan memberikan nafkah yang wajib bagi anggota keluarga yang ditinggalkan.
Keempat, meminta restu dan ridho orang tua atau keluarga, tempat berbakti dan berbuat baik.[2]
Kelima, melakukan safar atau perjalanan bersama tiga orang atau lebih. Sebagaimana hadits,
الرَّاكِبُ شَيْطَانٌ وَالرَّاكِبَانِ شَيْطَانَانِ وَالثَّلاَثَةُ رَكْبٌ
“Satu pengendara (musafir) adalah syaithan, dua pengendara (musafir) adalah dua syaithan, dan tiga pengendara (musafir) itu baru disebut rombongan musafir.” [3] Yang dimaksud dengan syaithan di sini adalah jika kurang dari tiga orang, musafir tersebut sukanya membelot dan tidak taat.[4] Namun larangan di sini bukanlah haram (tetapi makruh) karena larangannya berlaku pada masalah adab.[5]
Keenam, mengangkat pemimpin dalam rombongan safar yang mempunyai akhlaq yang baik, akrab, dan punya sifat tidak egois. Juga mencari teman-teman yang baik dalam perjalanan. Adapun perintah untuk mengangkat pemimpin ketika safar adalah,
إِذَا كَانَ ثَلاَثَةٌ فِى سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ
“Jika ada tiga orang keluar untuk bersafar, maka hendaklah mereka mengangkat salah di antaranya sebagai ketua rombongan.” [6]
Ketujuh, dianjurkan untuk melakukan safar pada hari Kamis sebagaimana kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Ka’ab bin Malik, beliau berkata,
أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – خَرَجَ يَوْمَ الْخَمِيسِ فِى غَزْوَةِ تَبُوكَ ، وَكَانَ يُحِبُّ أَنْ يَخْرُجَ يَوْمَ الْخَمِيسِ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju perang Tabuk pada hari Kamis. Dan telah menjadi kebiasaan beliau untuk bepergian pada hari Kamis.” [7]
Dianjurkan pula untuk mulai bepergian pada pagi hari karena waktu pagi adalah waktu yang penuh berkah. Sebagaimana do’a Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu pagi,
اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا
“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.”[8]
Ibnu Baththol mengatakan, “Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan waktu pagi dengan mendo’akan keberkahan pada waktu tersebut daripada waktu-waktu lainnya karena waktu pagi adalah waktu yang biasa digunakan manusia untuk memulai amal (aktivitas). Waktu tersebut adalah waktu bersemangat (fit) untuk beraktivitas. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan do’a pada waktu tersebut agar seluruh umatnya mendapatkan berkah di dalamnya.”[9]
Juga waktu terbaik untuk melakukan safar adalah di waktu duljah. Sebagian ulama mengatakan bahwa duljah bermakna awal malam. Ada pula yang mengatakan seluruh malam karena melihat kelanjutan hadits. Jadi dapat kita maknakan bahwa perjalanan di waktu duljah adalah perjalanan di malam hari[10]. Perjalanan di waktu malam itu sangatlah baik karena ketika itu jarak bumi seolah-olah didekatkan. Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَلَيْكُمْ بِالدُّلْجَةِ فَإِنَّ الأَرْضَ تُطْوَى بِاللَّيْلِ
“Hendaklah kalian melakukan perjalanan di malam hari, karena seolah-olah bumi itu terlipat ketika itu.”[11]
Kedelapan, melakukan shalat dua raka’at ketika hendak pergi[12]. Sebagaimana terdapat hadits dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إذا خرجت من منزلك فصل ركعتين يمنعانك من مخرج السوء وإذا دخلت إلى منزلك فصل ركعتين يمنعانك من مدخل السوء
“Jika engkau keluar dari rumahmu, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang dengan ini akan menghalangimu dari kejelekan yang ada di luar rumah. Jika engkau memasuki rumahmu, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang akan menghalangimu dari kejelekan yang masuk ke dalam rumah.”[13]
Kesembilan, berpamitan kepada keluarga dan orang-orang yang ditinggalkan. Do’a yang biasa diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang hendak bersafar adalah,
أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ
“Astawdi’ullaha diinaka, wa amaanataka, wa khowaatiima ‘amalik (Aku menitipkan agamamu, amanahmu, dan perbuatan terakhirmu kepada Allah)”[14].
Kemudian hendaklah musafir atau yang bepergian mengatakan kepada orang yang ditinggalkan,
أَسْتَوْدِعُكُمُ اللَّهَ الَّذِى لاَ تَضِيعُ وَدَائِعُهُ
“Astawdi’ukumullah alladzi laa tadhi’u wa daa-i’ahu (Aku menitipkan kalian pada Allah yang tidak mungkin menyia-nyiakan titipannya).”[15]
Kesepuluh, ketika keluar rumah dianjurkan membaca do’a:
بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ
“Bismillahi tawakkaltu ‘alallah laa hawla wa laa quwwata illa billah.” (Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada-Nya, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya)[16].
Atau bisa pula dengan do’a:
اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عليَّ
“Allahumma inni a’udzu bika an adhilla aw udholla, aw azilla aw uzalla, aw azhlima aw uzhlama, aw ajhala aw yujhala ‘alayya.” [Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesesatan diriku atau disesatkan orang lain, dari ketergelinciran diriku atau digelincirkan orang lain, dari menzholimi diriku atau dizholimi orang lain, dari kebodohan diriku atau dijahilin orang lain] [17].
MAKNA IDUL FITRI
sekarang kita bahas lebih lanjut makna dari Idul Fitri.
Idul Fitri terdiri dari dua kata. Pertama, kata ‘id yang dalam bahasa Arab bermakna `kembali’, dari asal kata ‘ada. Ini menunjukkan bahwa Hari Raya Idul Fitri ini selalu berulang dan kembali datang setiap tahun. Ada juga yang mengatakan diambil dari kata ‘adah yang berarti kebiasaan, yang bermakna bahwa umat Islam sudah biasa pada tanggal 1 Syawal selalu merayakannya (Ibnu Mandlur, Lisaanul Arab).
Pertanyaannya, kira-kira puasa kita diterima apa tidak? Atau yang kita lakukan ini hanya ritual-simbolik, sebatas menahan lapar dan haus, seperti yang pernah disinyalir Nabi Muhamad Saw? Jawabnya, Allahu ‘alam, kita tak tahu sejatinya. Tapi menurut para ulama, ada beberapa indikasi, seseorang dianggap berhasil dalam menjalankan ibadah puasa: ketika kualitas kesalehan individu dan sosialnya meningkat. Ketika jiwanya makin dipenuhi hawa keimanan. Ketika hatinya sanggup berempati dan peka atas penderitaan dan musibah saudaranya di ujung sana. Artinya penghayatan mendalam atas Ramadhan akan membawa efek fantastik, individu, maupun sosial.
Penghayatan dan pengamalan yang baik terhadap bulan ini akan mendorong kita untuk kembali kepada fitrah sejati sebagai makhluk sosial, yang selain punya hak, juga punya kewajiban, individu dan sosial. Sudahkan kita merasakannya? Itulah rahasia kenapa selamat hari raya Idul Fitri seringkali diakhiri dengan ucapan Minal ‘Âidîn wal Faizîn (Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali pada fitrah sejati manusia dan mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat). Selain sebagai doa dan harapan, ucapan ini juga bak pengingat, bahwa puncak prestasi tertinggi bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa paripurna, lahir dan bathin, adalah kembali kepada fitrahnya (suci tanpa dosa).
Sejak Idul Fitri resmi jadi hari raya nasional umat Islam, tepatnya pada tahun II H. kita disunahkan untuk merayakannya sebagai ungkapan syukur atas kemenangan jihad akbar melawan nafsu duniawi selama Ramadhan. Tapi Islam tak menghendaki perayaan simbolik, bermewah-mewah. Apalagi sambil memaksakan diri. Islam menganjurkan perayaan ini dengan kontemplasi dan tafakur tentang perbuatan kita selama ini.
Syeikh Abdul Qadir al-Jailany dalam al-Gunyah-nya berpendapat, merayakan Idul Fitri tidak harus dengan baju baru, tapi jadikanlah Idul fitri ajang tasyakur, refleksi diri untuk kembali mendekatkan diri pada Alah Swt. Momen mengasah kepekaan sosial kita. Ada pemandangan paradoks, betapa disaat kita berbahagia ini, saudara-saudara kita di tempat-tempat lain masih banyak menangis menahan lapar. Bersyukurlah kita!
Antara Lebaran dan Teknologi
Masih banyak diantara kita yang saat ini melupakan arti silaturrahmi. Dulu, saat kita masih merasakan artinya sebuah silaturrahmi dan teknologi masih jarang bisa kita nikmati, setiap hari raya, antar tetangga, famili dekat kita sempatkan untuk datang berkeliling dari rumah ke rumah bersilaturrahmi, bertegur sapa, bertatap muka, bernostalgia, bermaaf-maafan. Kini adanya teknologi, semua seakan sudah terwakilkan, mungkin hal ini cukup membantu bagi rekan kita, saudara kita, keluarga kita yang berada sangat jauh sekali dari kita. Namun permasalahnnya sekarang ini untuk bersilaturrahmii dengan tetangga dekat saja sudah merasa cukup diwakilkan dengan SMS ataupun telpon. Padahal sebenarnya kita masih punya cukup waktu untuk bisa bertandang dari satu rumah ke rumah lainnya untuk bersilaturrahmi.
Namun apapun yang kita lakukan, media apapun yang kita gunakan, cara apapun yang kita lalui, semoga semua itu tidak melupakan arti dari sebuah silaturrahmi, karena kehadiran kita ditengah orang lain, merupakan setetes embun penyejuk dari berjuta kebahagiaan merayakan Hari Lebaran, segala keridhoan dan keikhlasan pada hati kita semoga mendapat balasan dari Allah SWT, amiin...
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1430 H.
Mohon maaf lahir dan bathin.
Komentar
Met hari Raya Idul Fitri, dPrince
Mohon Maaf Lahir Batin...
RSS feed for comments to this post